Langsung ke konten utama

Postingan

Resensi Novel "I Believe in You" - Sekali Ibu, Tetaplah Ibu

Judul: I Believe in You Penulis: Aaboy Penerbit: Indiva Media Kreasi Tebal: 240 halaman Cetakan: I, Oktober 2019 ISBN: 978-602-5701-02-3
Sebelum melanjutkan bacaan resensi kali ini, perlu diketahui bahwa resensi ini ditulis dari sudut pandang seorang yang minim bacaan fiksinya, khususnya novel. Mempelajari teori-teori fiksi, namun jarang menulis cerpen, apalagi novel. Semoga resensi menjadi awal ketertarikan saya untuk banyak membaca karya fiksi dan menghasilkan karya ke depan.J ***** Kalau harus menyimpulkan isi dari novel ini, maka saya akan katakan “cerdas”. Kecerdasannya akan coba saya paparkan berikut dengan sedikit kisah yang memberi amanat cukup menyentuh bagi para pembaca. Bagi saya yang cukup mengenal sedikit banyaknya penulisnya, jelas sekali penulisannya sangat mewakili. Mahasiswa, kampus, cinta, persahabatan dan orangtua menjadi pokok utama pembahasan dalam novel yang bisa kita singkat dengan “IBU”.
Novel mengisahkan 4 mahasiswi yang bersahabat sejak belajar bersama di salah satu k…
Postingan terbaru

Standar Ganda Definisi Terorisme (2)

Dominasi kekuatan tertentu atas informasi dan jaringan media mainstream yang secara global mendominasi peta percaturan ekonomi-politik jejaring media di dunia sedikit banyaknya telah membentuk anggapan publik yang beragam. Segala kecurigaan menjadi semu karena fakta publik tidak banyak memiliki bukti untuk mengiyakan tuduhannya. Sekalipun ada, proses yang harus ditempuh tidak mudah bagi masyarakat bawah yang menjadi konsumen media mainstream tersebut.
Saat yang sama, media perlu menggalakan lagi proses tabayyun yang menjadi pedoman etis dan teknis jurnalistik. Rumusan etika jurnalisme adalah langkah strategis yang dijunjung tinggi para pekerja media di seluruh dunia. Perihal ini menjadi sangat urgen karena opini publik era sekarang tumbuh dari benih-benih media yang dipertontonkan. Sehingga definisi apapun yang dikehendaki akan terwujud dalam benak publik secara umum. Begitulah definisi terorisme beralih makna dari segala bentuk pelanggar hukum yang menggunakan kekuatan atau kekerasan …

Standar Ganda Definisi Terorisme (1)

Tentang kaidah peradaban yang akan berganti dan selalu berubah, sebuah peradaban akan membutuhkan lawan untuk menunjukan diri sebagai kekuatan yang tak tertandingi. Ketika supremasi dan hegemoni habis, peradaban butuh eksistensi yang meninggikan namanya dan ditakuti. Pasca berakhirnya perang dingin, Barat berlanjut kepada peran memerangi terorisme. Isu besar terorisme ditujukan untuk menyatukan AS dan sekutunya. Samuel Huntington dalam bukunya Who Are We? menyatakan, musuh Pemerintah AS sudah ketemu, yaitu kaum Islam militan. Berkat isu terorisme, posisi Komunisme dan Uni Soviet yang menjadi musuh utama mereka, kini berpindah kepada Islam militan secara umum.
Strategi ghazwul fikr yang dilakukan AS adalah cara lama yang sudah digunakan oleh para orientalis terdahulu. Status dan opini yang bergulir bertujuan melemahkan akidah, ghirah dan kecintaan umat terhadap agamanya. Kasus ini menempatkan opini publik menjadi kedudukan penting yang perlu direbut dan digalakan secara intensif melalui…

Siapa yang Memakan Sastra Islam?

Sastra dan Islam selamanya akan terus bersama. Dalam sejarah Islam, sastra memiliki peranan penting sebagai sarana dakwah. Secara tidak langsung sastra akan berfungsi sebagai; pengingat akan nilai kebenaran, mengkomunikasikan prinsip Islam, memberi suri tauladan (akhlak yang baik) dan bertindak tegas dengan segala kemampuan yang dimiliki. (Fuad Amsyari, 2003 : 6).  Sastra sudah menemani perjalanan Islam sejak awal risalahnya disampaikan kepada Muhammad saw. Dunia Arab sempat mencicipi masa dimana untaian kata yang bermakna ialah puncak kehebatan manusia. Mereka berlomba melahirkan karya untuk mendapatkan label terhormat. Dan Islam hadir menyempurnakannya.
Lalu bagaimana dengan sekarang? Download selengkapnya 👇

https://drive.google.com/open?id=1VIzdqTCtkVkSzQaaMoW8BwJFB-reU4yD


Tribute to BJ Habibie : Mengembalikan Nilai Juang yang Hilang

“Saya diberi kenikmatan oleh Allah ilmu teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama lebih manfaat untuk umat Islam, kalau saya disuruh milih antara keduanya maka saya memilih ilmu agama” -BJ Habibie-
Tatkala dunia ini hampir terjerumus ke dalam jurang kehancuran, karena kebodohan dan kebiadaban. Tidak ada nilai, norma dan etika. Seluruh hidup manusia saat itu dipasrahkan kepada kebodohan kolektif. Lalu tampil Islam dengan konsep ke-Ilahian, persaudaraan dan kebenaran. Mengarahkan manusia kepada cahaya kebebasan meninggalkan kejahilan dan tahayul. Diletakan makna hidup selaras dengan fitrah manusia dimanapun mereka berada. Seketika musyrik berubah menjadi iman, dilancarkanlah ibadah dan muamalah. Ajarannya yang lengkap dan mudah mengatur hubungan sesama insan dan kepada Tuhan, melalui jalur horizontal dan vertikal.
Lalu, semarak orang Barat yang gelap menghadapi masa depannya dengan berguru dari orang Islam. jangan bayangkan kegelapan Bar…

Jangan Paksa (Saya) Menikah

Pernikahan merupakan ibadah yang tersurat dalam al-Quran dan hadis. Dengan segala keistimewaan dan hikmah yang terkandung di dalamnya pernikahan memberikan pahala bagi kedua pasangan. Tentu bagi mereka yang melakukannya dengan sempurna. Kesempurnaannya terkandung dalam sebuah hadis yang menyebutkan menikah ialah setengah dari pada agama (nishfu addin). Pernikahan dalam Islam merupakan jaminan atas fitrah manusia, namun agama mengaturnya dengan indah. Menikah bukan sebatas gerbang yang sah dilewati (dalam agama) untuk melepaskan hawa nafsu manusia. Di dalamnya terdapat dakwah, jihad, sedekah dan segala persembahan yang Allah berikan dalam rupa yang mesra, manja dan mempesona.
Realita yang kita temukan menikah seperti ajang pertaruhan ketika kawanan jomblo (belum menikah) dihadapkan dengan momen yang seharusnya saat itu mereka perlu menikah menurut definisi orang tua atau sahabat yang sudah menikah. Meme dan segala bentuk nasihat berubah maksud dari yang tadinya hiburan dan manfaat menja…

Minat Baca Indonesia Rendah atau Bertranformasi?

Minat baca memang menjadi sorotan sejak lama. Usaha untuk meningkatkannya sudah banyak dilakukan oleh banyak pihak dan berbagai program. Hal ini karena tingginya minat baca merupakan indikasi menuju bangsa yang ideal. Menjadi Indonesia yang beradab dan maju tentu harapan kita semuanya. Membaca akan meningkatkan idealism setiap orang dan memiliki usaha untuk mewujudkannya. Sebab itu membaca merupakan ciri bangsa maju dan beradab.
Sayangnya beberapa tahun ke belakang berbagai survey dan penelitian menempatkan minat baca Indonesia pada posisi yang cukup memprihatinkan, termasuk kemampuan membacanya. Urutan minat baca Indonesia hampi terendah, ke 60 dari 61 negara, UNESCO menyebut Indonesia urutan ke 38 dari 39 negara yang diteliti. Termasuk kemampuan membaca kita, hanya pada angka 30% dalam kemampuan memahami dan menguasai bahan bacaan. Belum saya temukan penelitian terbaru, semoga saja ada peningkatan dalam minat dan kemampuan baca.
Kita bisa melihat sekitar masyarakat terkait perkembanga…