Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Kata ‘Islamic’ Obati Penasaran

Suatu hari di minggu-minggu libur setelah UTS entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja tangan saya jadi berat untuk sekadar memegang kepala dengan yang dipikirkan, kala itu kepala saya menjadi terpikir tentang isi dari dauroh mingguan yang diadakan sorenya tentang keadaan umat islam di timur tengah dan kondisi disana yang sering disebut “arab spring” ditambah larangan semua media islam untuk mempublish berita-berita yang sebenarnya terjadi di jauh sana, mungkin ini juga penyebab kepala saya terus on untuk berpikir, tapi tak lama Imam bersama Ridwan menghilangkan pikiran itu dengan paksa melalui panggilan jarak jauhnya “jay...” mereka panggil saya, tapi tak apalah Saya bilang dalam hati, lumayan juga menghilangkan pikiran yang tadi sempet menguras tenaga. Akhirnya kitapun jalan bersama tanpa arah dan tujuan entah kemana, bahkan pembicaraan kita lebih terarah ketimbang tujuan perjalanan kaki kita. Berjalan dengan langkah yang sama, semakin lama keberadaan imam semakin terbelakang dari Say…

Gaza-Izzatul Islam

Syair by: Afwan Riyadi

Gaza.. Gaza.. Gaza..
Semuanya bermula
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Tanah para syuhada
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Kemenangan kan nyata
Gaza.. Gaza.. Gaza..
Palestina merdeka

Negri mujahiddin sejati
Serahkan jiwa di jalan Ilahi
Perjuangan tak kenal kata henti
Demi raih kenikmatan abadi

Debu dan batu jadi saksi
Jiwa nan perkasa tunaikan janji
Seagung kepak sang rajawali
Hancurkan kecongkakan tirani

Wahai Muslimin bangkitlah, bangkitlah..!
Palestin memanggilmu bebaskan, bebaskan..!
Walau tumpah peluh dan darah
Tegak satu cita.. Palestina merdeka !!

Kesederhanaan Sebuah Cita-cita

Cuaca tenang di pagi yang indah ini, disertai hembusan angin yang menusuk dan kicauan burung pipit yang bersamaan dengan suara pijakan kaki yang semakin mendekat. “ini de, kopi susunya.” Ujar bibi pembantu padaku, sesuai dengan minuman pagi favorit ku, sambil melihat lambaian daun pisang kesana kemari dan rintikan hujan yang mulai membesar ku minum kopi susu itu, sampai terdengar suara gelinding kursi roda yang kian lama semakin mendekatiku, ku lihat sosok yang sudah berumur tua, kulit keriput yang terlihat terang dengan senyumannya, entah itu pertanda senang atau sedih, karena apapun yang terjadi beliau selalu dalam keadaan tersenyum. “kamu nggak tidur ki, biasanya kalo pagi dingin gini udah mimpi kan? Hhe” Tanya kakek sambil senyum. “hha, bisa aja kek, Rizki lagi merenung aja ni,” balasku, sambil berharap kakek menanyakan akan apa yang aku renungkan. “ohh, renungin apa ki? Ga biasanya serius gini, hhe” Tanya kakek lagi seperti biasa dengan senyumannya. Akhirnya ditanyain juga ucapku d…