Langsung ke konten utama

Tidak Ada Ruang Bagi Pelaku LGBT Di Indonesia


Seharusnya, azab yang Allah timpakan kepada umat Nabi Luth dan istrinya sudah cukup menjadi peringatan bagi kaum LGBT. Ya, bahkan lebih dari cukup. Alasan turunnya azab, jelas karena perbuatan yang tidak beradab dan sangat dilaknat (gay, homo) oleh Allah. Pula dengan azabnya yang sudah jelas. Tapi masih saja ada yang mengelak. Atas nama human right, tafsir yang nyeleweng atau yang anggap penyebab hancurnya kaum Luth adalah karena bencana biasa bukan karena perilaku homo umatnya. Entahlah, mungkin masih banyak lagi alasan lain dari para penyembah LGBT. Tapi yang jelas Alquran tidak menerima perilaku itu.

Untuk umat islam mungkin sudah jelas panduannya. Al-quran menyampaikannya sejak dulu dan sangat mudah dipahami. Jangan kita mau dipalingkan oleh setan dan iblis untuk menghalalkan praktik homo. Urusan sesat menyesatkan iblis ahlinya. Semenjak Iblis ditetapkan sesat oleh Allah karena menentang perintahnya. Sejak itulah iblis berjanji untuk terus mengajak sebanyak-banyaknya manusia ikut sesat. Mereka pintar memoles maksiat dan perbuatan keji menjadi indah dimata manusia.

Hemat saya LGBT jelas tidak bisa diterima di negara kita Indonesia. Dengan alasan apapun termasuk human right atau HAM (Hak Asasi Manusia). Mereka selalu teriak ini hak kita untuk berprilaku, “dimana kebebasan bagi LGBT”, hak lagi, hak lagi mereka bicarakan. Terlihat egois memang. Bahkan jika mereka berbicara kebebasan, lantas dimana kebebasan bagi mereka yang beragama yang meyakini bahwa ini perbuatan keji dan tidak beradab. Mana ??

Sebenarnya bicara soal kebebasan, sudah tidak asing lagi bahwa setiap institusi, lembaga atau organisasi manapun di Indonesia pasti menerapkan KEBEBASAN. Tapi kebebasan itu selalu dibatasi. Selalu dibatasi dengan hukum dan norma-norma yang ada. Tertulis maupun yang tidak tertulis. Rakyat bebas bersuara atas deritanya kepada presiden, tapi perlu diingat rakyat tidak bebas merobek baju yang dipakai presiden, atau menarik janggut presiden. Kebebasan selalu dibatasi dengan hukum dan norma.

Bahkan bagi seorang muslim, sudah sepantasnya memahami kebebasan dengan islamic world view. Memahaminya dengan khiyar bukan freedom. Freedom diartikan bebas sebebas-bebasnya. Tapi khiyar berasal dari kata khoir yang artinya baik. Seorang muslim hanya dibebaskan memilih yang baik-baik.

Seperti disampaikan okeh Dr Adian Husaini dalam bukunya “LGBT di Indonesia Perkembangan dan Solusinya, “... Muslim punyabkebebasan hanya untuk memilih yang baij (khayr). Muslim tidak bebas memilih yang jahat. Muslim tidak bebas untuk berzina, korupsi, menyuap,apalagi berpraktik homo dan lesbi...”.

Begitupun jika non muslim, Indonesia dengan konstitusinya memberikan batasan kepada paham kebebasan seperti itu. dalam UUD 1945 pasal 28 J ayat 2 disebutkan “(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”

Dan LGBT dalam praktiknya jelas-jelas melanggar. Berhubungan intim atau menikah sesama jenis itu tidak ada dalam UU Indonesia. Undang- undang pernikahan pasal 7 ayat 1(bisa cari di google) tentang perkawinan yang diizinkan hanya berbicara tentang pria dan wanita. Tidak ada pria dan pria atau sebaliknya. Begitu juga dalam pasal 8 f perkawinan yang dilarang juga jatuh kepada mereka yang menurut agamanya atau hukum yang berlaku dilarang kawin. Dan masih banyak lagi mungkin yang belum saya dapati. Tapi yang jelas dalam Undang-undang perkawinan selalu berbicara suami dan isteri, pria dan wanita.

Jelas memang LGBT tidak ada tempat di Indonesia. Hanya saja untuk pencegahannya cukup sulit. mungkin butuh rehabilitasi seperti pecandu narkoba untuk menyadarkannya. Atau mungkin ada cara lain.

Propaganda homofobia

Fobia terhadap suatu kejelekan itu baik. Sangat wajar kita fobia terhadap korupsi, hianat begitu juga fobia terhadap praktik homo (homofobia). Tapi yang ditakutkan kedepannya adalah propaganda. Propaganda yang akan mengatakan bahwa homoseksual bukan termasuk gangguan jiwa. Jelas ini akan menjadi alasan kuat bagi mereka. tapi apakah benar homoseksual tidak termasuk gangguan jiwa ? psikolog mana yang mengatakan ? Siapa dia ? Tentu pertanyaan ini perlu dilayangkan untuk menjadikan hasil penelitian ahli psikolog itu benar.

Masalahnya, jika homoseksual sehat-sehat saja. Apakah itu berarti heteroseksual adalah sebuah kelainan. Kalau begitu orang yang homofobia justru dialah yang memiliki kelainan atau mental illness seperti yang diutarakan Dr Adian H dalam bukunya tentang LGBT. Beliau juga mengatakan “ jika kelompok seksual sudah dianggap normal, maka saat ini sedang terus diusahalan agar homofobia dimasukan ke dalam daftar penyakit mental atau gangguan jiwa...”
Jika saja homofobia dimasukan kepada mental illness’s list. Lantas bagaimana dengan agama yang melarang praktik LGBT. Tidak hanya islam. Kristen termasuk agama yang melarang praktik homoseksual. kita tidak benci pelaku homoseksual, justru karena cinta kita mengingatkan. Yang sangat dikecam itu perilaku homoseksual. Wallahua’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teruntuk Pemuda (Special Edition)

Tidak berlebihan setiap tokoh selalu menjatuhkan beban masa depan bangsa kepada pemuda. Terlalu banyak nilai dari kisah yang mengagumkan dengan menonjolkan seorang pemuda menjadi sosok manusia super (superman). Seakan segala kondisi disebabkan oleh pemuda dan akan dituntaskan oleh pemuda juga. Fenomena pemuda seperti cerita hero (jagoan), menarik dibicarakan karena hero akan bertemu lawan yang sepadan pada masanya. Dan pemuda tinggal memilih posisi mana yang akan ia perankan.
Islam tidak main-main jika berbicara pemuda. Kisah ashabul kahfi Allah swt sampaikan kepada Rasulullah sebagai motivasi bagi pemuda saat itu. Bagi seorang muslim harus meyakini bahwa salah satu pertanyaan kepada anak Adam pada hari kiamat kelak adalah “tentang masa mudanya dimana dia usangkan?”. Rasulullah saw berpesan, “manfaatkan 5 perkara sebelum 5 perkara; waktu muda mu sebelum datang waktu tua mu...”.
Pemuda memiliki berbagai karakteristik yang menonjol, kondisi ini menjadikan dirinya dominan dalam belahan hi…

Surat Kecil untuk Pejuang Ilmu

Surat Kecil untuk Pejuang Ilmu
Oleh : Azhar Fakhru Rijal
Wahai para pejuang ilmu...
Apa yang kalian pikirkan dengan perpisahan?
Bukan jarak, hubungan atau canda tawanya
Tapi sejauh mana kita bersama
Saat dunia terasa menjepit langkah kita
Wahai para pejuang ilmu...
Sekalipun jangan pernah salahkan ilmu yang menjauhkan
Karena sejatinya ilmu menyatukan kita semua
Ilmu bukan barang murah, jangan mau mendapatkannya gratis
DR Adian Husaini berpesan "Jika menuntut ilmu adalah jihad, maka apa yang kita keluarkan untuk menuntut ilmu adalah jihad"
Wahai para pejuang ilmu...
Jangan pula takut ditinggal orang-orang tercinta
Sesungguhnya kita tidak pernah tahu mereka kecuali Allah dan Rasulnya
Maka dari itu permintaan manusia tidak boleh terbelah oleh dunia
Biarkan kebaikan kita menjawab kebaikan Tuhan
Wahai para pejuang ilmu...
Bangunan, tanah dan kebahagiaan bukan hanya kenangan
Namun sebuah ingatan yang kalian sendiri akan menguburnya
Saya katakan, jangan sekali- kali melemparnya se…

Kasus Terorisme: Permainan dalam Definisi

Jumat (15/3) Kabar mengejutkan kini muncul dari Christhruch, Selandia Baru. Media dipenuhi dengan berita penembakan yang 2 masjid di Christhruch, yaitu Al-Noor dan masjid lainnya di Linwood. Salah satu pelakunya telah dikonfirmasi bernama Brendon Tarrant, warga negara Australia. Namun, seperti yang sering kita amati, penggunaan istilah teroris selalu menimbulkan banyak pertanyaan. Pasalnya sejauh pemantauan, awal-awal berita ini muncul minim sekali media menyebutnya sebagai teroris. Baru setelah beberapa jam selanjutnya istilah teroris bermunculan di media berita. Mungkin sebagian orang tidak mempermasalahkan istilah-istilah tersebut. Namun, psikologi masyarakat tergerak berdasarkan opini yang ada. Kita tidak perlu sepenuhnya meyakini ada dalang di balik semua kejadian atau isu konspirasinya. Sebab realita penggunaan beberapa istilah menimbulkan banyak kejanggalan. Termasuk makna teroris yang bisa saja disalahgunakan sebab definisinya yang ambigu dan syarat kepentingan. Hal ini wajar m…