Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Kenapa Saya Pilih Prabowo-Sandi (02)

1. Wibawa Menurut saya kondisi Indonesia yang begitu luasnya memerlukan kekuatan untuk menjaga dan mempertahankannya. Beberapa tahun ke belakang kita sedikit kecolongan, khususnya terkait urusan perbatasan negara. Beberapa budaya kita sempat diakuisisi oleh negara lain, seperti Reog Ponorogo, Pencak Silat, Kuda Lumping. Wibawa negara perlu dikuatkan melalui pemimpinnya. Pemahaman Prabowo sebagai mantan tentara tentu sangat diunggulkan. Tapi tidak berarti selalu dengan kekuatan tentara yang diharapkan. Tapi kemampuan bernegosiasi dan komunikasi juga harus dimiliki. Oleh karena itu, komitmen kebijakan yang pro rakyat dan pro NKRI harus ditunjukan dengan tegas. Entah seperti apa nanti kebijakannya, namun saat presiden komitmen dengan kebijakan sekalipun harus bertentangan dengan kepentingan asing akan menunjukan wibawa negara. 2. Kebijakan ekonomi Saya kira secara transparan banyak data sudah menampilkannya, bagaimana perekonomian Indonesia sekarang. Untu…

IMAN

Kebenaran selalu merangkul akal Pengantarnya bercokol pada pola pikir Penjaganya tertanam dalam referensi Saat itulah Islam menentang dogma Kenapa harus kembali ke masa lalu Saat otak manusia menjadi boneka Atas orang yang mengatasnamakan gereja
Angin itu semakin deras Tatkala hujan menghujam manusia Dedaunan seakan sampah beterbangan Dahan kan berujung jadi abu Reruntuhan pohon disembunyikan Hanya demi citra dunia yang diagungkan
Namun, jangan kau lupa Akar tetaplah akar, ia kuat dengan serabutnya Semacam cabang yang mendonasi kekuatan Ia tak pernah jumawa dan terus merendah Tak pernah goyah sekalipun ditebang paksa Hanya tumbang saat takdirnya datang
Kuningan, 10 April 2019

Politik “Cari Aman”

Kini kata politik selalu diidentikan dengan kebencian, saling hujat, perpecahan dan segala aura negatif yang berada di dalamnya. Lebih menohok lagi indikator kerusuhan atau keretakan hubungan antar manusia selalu mengindikatorkan politik sebagai dalangnya. Alhasil masyarakat menempatkan politik sebagai kegiatan yang kotor dan gelap. Begitulah tuah dari pada yang ditanam oleh politikus dan menuai kepada politik itu sendiri, bahkan menjadikannya identitas yang tidak baik. Memang tidak semua sudah memahami politik secara runut, atau meneliti sedikit saja dari pada makna politik yang ideal sebagaimana fungsinya. Kondisi inilah yang memaksa masyarakat tertanam dalam benak mereka makna politik dari realitas yang mereka lihat melalui layar TV, media sosial, berita online. Tingkah laku politikus yang ditonjolkan melalui media mau tidak mau akan membentuk opini publik tentang definisi politik itu sendiri. Sebab tidak semua masyarakat mampu menelaah sebagaimana kemampuan literasi yang ideal dimi…